Becak Batman

Admin tigabinanga.net lagi selfi di becak batman... hehehe Baca »

Uis Gara Goes To Netherlands

Sedikit cerita tentang kebanggaan warga karo yang tinggal di Kota Heerlen Belanda... Baca »

Kedai Kopi Surya Indah

Kedai kopi berbobot dan keren, ngopi yuukkk... Baca »

Tigabinanga Tempo Doeloe

Mari kita lihat sejenak Tigabinanga tempo doeloe... Baca »

Suka Menulis dan Foto?

Mari Bergabung untuk berbagi informasi... Baca »

 

Uis Gara Goes To Netherlands

Setelah Raga Go To Jerman jadi Trending Topic di Facebook kali ini admin akan mengangkat cerita tentang cerita Uis Gara Goes To Netherlands yang patut juga kita tiru untuk mengangkat aset-aset budaya karo baik di Indonesia maupun di Internasional.

Jika yang belum baca tentang Raga Go To Jerman silahkan klik disini

Bangga dengan aset-aset budaya sendiri itu perlu kita buat suatu gebrakan agar aset-aset budaya karo lebih dikenal di Indonesia bahkan di luar negeri. Kita masyarakat karo jangan mau ketinggalan untuk mempopulerkan budaya kita agar aset budaya karo seperti Raga Dayang-dayang dan Uis Gara bisa mendunia seperti Batik.

Uis Gara Goes To Netherlands 03

Ibu Eva br Ginting dan John Hubert Roks (Suami)

Admin akan memperkenalkan siapa yang ada difoto Tagline diatas yang sanggat bangga memakai Uis Gara meskipun mereka sekarang berdomisili di negara Belanda (Netherlands).

Ibu yang difoto tersebut adalah Eva br Ginting dan suami bernama John Hubert Roks (berkembangsaan Belanda), ibu Eva br Ginting berasal dari Tiga Binanga yang dulu pernah tinggal di dekat Pekan Buah Tiga Binanga serta Laki dan Tigan (kakek dan Nenek) berdomisili di Jalan Kapten Pala Bangun Tiga Binanga. Di umur 6 tahun ibu Eva br Ginting pindah ke Jakarta mengikuti orang tua.

Ini beberapa kutipan obrolan admin dengan ibu Eva br Ginting :

Admin : “Kapan ibu tinggal di negara Belanda?”

Eva br Ginting : “Aku di Belanda sejak tahun 2004. Tepatnya aku berdomisili di kota Heerlen, Limburg di bagian selatan Belanda”.

Admin : “Hal apa yang kadang menjadi kendala awal berdomisili di Kota Heerlen?”

Eva br Ginting : “Karena di wajib kan bagi pendatang menguasai bahasa Belanda maka aku 1 tahun di kursuskan oleh pemerintah tempat aku berdomisili (dibiayai kursusnya) sejak tahun 2012 harus bayar sendiri.

Admin : “Sejak kapan mulai bekerja di Belanda?”

Eva br Ginting : “Tahun 2010 mulai bekerja sampai sekarang”.

Admin : “Apa suka dukanya tinggal di Belanda?”

Eva br Ginting : “Sukanya tinggal di Belanda kalau gajian di bayar dgn Euro ha..ha..ha…! terus kalau kita mau berlibur ke beberapa negara Eropa letaknya tidak terlalu jauh seperti ke : Belgia, Jerman, Luxemburg, Inggris & Perancis. Dukanya Biaya hidup tinggi & segala pekerjaan rumah tangga di lakukan sendiri karena jasa pembantu di bayar minimum 15 euro per jam”.

Admin : “Saya perhatikan dibeberapa foto-foto ibu, ibu sangat nyaman dengan memakai Uis Gara, dan disaat kapan memakainya”.

Eva br Ginting : “Uis dan kebaya gara suka dipakai kalau ada acara-acara undangan yang enggak harus Dress Code atau melayat orang meninggal”

Admin : “Apa yang membuat begitu senang memakai kebaya atau uis gara?”

Eva br Ginting : “Menurut aku Uis gara coraknya cantik dan elegan. Aku punya beberapa warna dari uis gara. Pokoknya walau tinggal di negara Eropa tetap cinta tanah karo dan aku bangga jadi orang karo. Aku masih fasih menggunakan cakap karo.”

Admin : “Salut 🙂 “

Jika diperhatikan dari kutipan obrolan tersebut bahwa ibu Eva sangat begitu bangga menjadi orang karo dan cinta dengan aset budaya karo meskipun sudah menetap di negara Eropa. Apakah teman-teman yang tinggal di Indonesia masih tetap bangga seperti ibu Eva tersebut? Sekali lagi admin saran kan jangan pernah malu atau merasa ketinggalan jaman menggunakan aset-aset budaya karo terlebih kita orang karo dimanapun pun kita berada. Aset-aset budaya karo itu harus dirutinkan untuk menggunakan nya agar orang lain tahu kalau budaya karo itu sangat menarik dan indah.

Ibu Eva br Ginting terakhir berkunjung ke Tiga binanga tahun 2006 dan bulan juni 2015 yang akan datang akan berkunjung lagi ke Tiga Binanga dalam rangka menghadiri pesta tahunan Merdang Merdem.

Uis Gara Goes To Netherlands 04

Ibu Eva br Ginting dan John Hubert Roks (Suami)

Segala sesuatu itu pasti berawal dari kecil baru besar nantinya. Jadi mari kita bersama-sama membuat Trendsetter budaya karo dimanapun kita berada maka secara otomatis seluruh dunia pasti akan tahu kalau budaya karo itu sangat indah. Mejuah juah

Uis Gara Goes To Netherlands 05

Beberapa koleksi Ibu Eva br Ginting

Uis Gara atau Uis Adat Karo adalah pakaian adat yang digunakan dalam kegiatan adat dan budaya Suku Karo dari Sumatera Utara. Selain digunakan sebagai pakaian resmi dalam kegiatan adat dan budaya, pakaian ini sebelumnya digunakan pula dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Karo. Kata Uis Gara sendiri berasal dari Bahasa Karo, yaitu Uis yang berarti kain dan Gara yang berarti merah. Disebut sebagai “kain merah” karena pada uis gara warna yang dominan adalah merah, hitam, dan putih, serta dihiasi pula berbagai ragam tenunan dari benang emas dan perak. Secara umum uis gara terbuat dari bahan kapas yang kemudian dipintal dan ditenun secara manual dan diwarnai menggunakan zat pewarna alami. Cara pembuatannya tidak jauh berbeda dengan pembuatan songket, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin.

Pada awalnya kegunaan uis gara, yaitu dibuat untuk dipakai sehari-hari oleh kalangan perempuan Karo. Namun saat ini uis gara hanya digunakan di setiap upacara adat dan budaya Karo. Baik yang dilaksanakan di daerah Karo sendiri, maupun di luar daerah Karo, selebihnya kerap juga ditemukan dalam bentuk sovenir berupa tas, dasi, gorden, ikat pinggang, sarung bantal, dan lain sebagainya.

Jenis-jenis uis gara :
Uis gara memiliki berbagai jenis serta fungsinya masing-masing, bahkan ada beberapa diantaranya sudah langka karena tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa jenis dan fungsi khusus uis gara tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Uis Beka Buluh, Uis beka buluh memiliki ciri gembira, tegas dan elegan. Kain adat ini merupakan simbol wibawa dan tanda kebesaran bagi seorang Putra Karo.Sebagai Penutup Kepala. Pada saat Pesta Adat, Kain ini dipakai Pria/putra Karo sebagai mahkota di kepalanya pertanda bahwa untuk dialah pesta tersebut diselenggarakan. Kain ini dilipat dan dibentuk menjadi Mahkota pada saat Pesta Perkawinan, Mengket Rumah (Peresmian Bangunan), dan Cawir Metua (Upacara Kematian bagi Orang Tua yang meninggal dalam keadaan umur sudah lanjut). Sebagai Pertanda (Cengkok-cengkok /Tanda-tanda) yang diletakkan di pundak sampai ke bahu dengan bentuk lipatan segi tiga. Sebagai Maneh-maneh. Setiap putra karo dimasa mudanya diberkati oleh Kalimbubu (Paman, Saudara Laki-laki dari Ibu, Pihak yang dihormati) sehingga berhasil dalam hidupnya. Pada Saat kematiannya, pihak keluarga akan membayar berkat yang diterima tersebut dengan menyerahkan tanda syukur yang paling berharga kepada pihak kalimbubu tadi yakni mahkota yang biasa dikenakannya yaitu Uis Beka Buluh.
  2. Uis Gatip Jongkit, Uis Gatip Jongkit menunjukkan ciri atau lambang karakter kuat dan perkasa dan digunakan sebagai pakaian luar bagian bawah untuk Laki-laki yang disebut gonje (sebagai kain sarung). Kain ini dipakai oleh Putra Karo untuk semua upacara Adat yang mengharuskan berpakaian Adat Lengkap.
  3. Uis Gatip, Uis Gatip Jongkit menunjukkan karakter Teguh dan Ulet. Sebagai Penutup Kepala wanita Karo (tudung) baik pada pesta maupun dalam kesehariannya. Untuk beberapa daerah, diberikan sebagai tanda kehormatan kepada kalimbubu pada saat wanita Karo meninggal dunia
  4. Uis Nipes Padang Rusak, Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada pesta maupun dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Uis Nipes Benang Iring, Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat duka cita.
  6. Uis Ragi Barat, Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat sukacita maupun dalam keseharian. Lapisan luar pakaian wanita bagian bawah (sebagai kain sarung) untuk kegiatan pesta sukacita yang diharuskan berpakaian adat lengkap.
  7. Uis Jujung-jujungen, Kain ini dipakai hanya untuk lapisan paling luar penutup kepala wanita (tutup tudung) dengan umbai-umbai emas pada bahagian depannya.
  8. Uis Nipes Mangiring, Kain ini dipakai wanita Karo sebagai selendang bahu dalam upacara adat duka cita.
  9. Uis Teba, Kain ini dipakai wanita Karo lanjut usia sebagai tutup kepala (tudung) dalam upacara yang bersifat duka cita. Kain ini dijadikan sebagai tanda rasa hormat kepada Puang Kalimbubu (disebut Morah-morah) pada saat seorang wanita yang sudah lanjut usia (cawir metua, semua anaknya telah kawin).meninggal dunia.
  10. Uis Pementing, Kain ini dipakai Pria Karo sebagai ikat pinggang (benting) pada saat berpakaian Adat lengkap dengan menggunakan Uis Julu sebagai kain sarung.
  11. Uis Julu diberu, Untuk pakaian wanita pembalut tubuh dari dada bagian atas hingga ke pergelangan kaki (disebut abit) untuk upacara adat yang diharuskan berpakaian adat lengkap. Kain ini dijadikan sebagai tanda rasa hormat kepada Kalimbubu (disebut Maneh-maneh) pada saat seorang pria maupun wanita yang sudah lanjut usia (cawir metua, semua anaknya telah kawin) meninggal dunia. Kain ini dijadikan sebagai tanda rasa hormat kepada Kalimbubu (disebut Maneh-maneh) pada saat seorang pria maupun wanita yang sudah lanjut usia.
  12. Uis Arinteneng, Alas pinggan pasu yang dipakai pada waktu penyerehan mas kawin. Alas piring makan pengantin saat makan bersama dalam satu piring pada malam hari usai pesta peradatan (man nakan persadan tendi/mukul)
  13. Perembah, Untuk menggendong bayi, Untuk anak pertama, perembah diberikan oleh Kalimbubu seiring doa dan berkat agar anak tersebut sehat-sehat, cepat besar dan menjadi orang sukses dalam hidupnya kelak.
  14. Uis Kelam-kelam, Penutup kepala wanita Karo (tudung teger) waktu pesta adat dan pesta guro-guro aron. Kain ini juga digunakan sebagai tanda penghormatan kepada puang kalimbubu pada saat wanita lanjut usia meninggal dunia (morah-morah) (id.wikipedia.org)

Berita tautan : http://tigabinanga.net/raga-go-to-jerman